Cara Pengawetan ikan koleksi

Cara Pengawetan ikan koleksi

Oleh

Ahmad fauzi

Dalam penelitian mengenai biologi ikan baik yang diperoleh dari “fieltrip” Mahasiswa ataupun keperluan lainya pelaksanaanya sering terbentur kepada keterbatasan waktu. Maka salah satu cara untuk  mempertahankan ikan adalah dengan cara dilakukan pengawetan sampel ikan.

Suatu hal yang perlu diperhatikan untuk pengawetan ikan baik untuk penelitian maupun koleksi ikan ialah mengusahakanya agar ikan tetap baik seperti keadaan sebelum diawetkan. Keadaan sisik sisik dan sirip harus tetap lengkap serta badan ikan itu sendiri tidak berbengkak atau berkerut, dan sejauh mungkin warna ikan dapat dipertahankan seperti keadaan semula.

Berikut ini adalah metode pengawetan ikan yang lazim digunakan pada laboratorium Biologi makro Menurut Affandi et. al (1992)

1)       Ikan yang akan diawetkan sebaiknya telah mati tapi masih segar, atau jika ikan yang akan digunakan masih hidup kita dapat bius dengan perendaman dengan air es. Pada ikan dengan ukuran kecil sebaiknya dengan formalin 4-5 %, dan pada ikan denagn ukuran besar menggunakan formalin konsentrasi 10%.

2)       Sebelum dimasukan kedalam formalin ikan-ikan yang berukuran besar dengan panjan lebih dari 150 mm, sebaikny dituris dibagian sisi perut sebelah kanan sepsnjang kurang lebih 30mm. penurisan dimaksudkan agar bahan bahan pengawet ( formalin) dapat terserap kedalam rongga otot, supaya organ-organ dalam usus tidak membusuk. Diantara bagian tibuh ikan, bagian rongga perut merupakan bagian yang paling mudah membusuk. Bagian yang dituris pada metode ini adalah bagian kanan tubuh ikan, karna bagian kiri digunakan untuk melihat cirri-ciri morfologi ikan. jika ikan yang diawetkan cukup tebal, missal ikan tongkol ( Euthynus sp), maka otot daging dikanan tulang kiri harus dituris.

3)       Setelah ikan direndam dalam formalin selama lebih kurang satu minggu, kemudian dicuci dalam air atau dalam air mengalir atau direndam dalam air mengalir selama kurang dua hari.

4)       Ikan ikan yang telah dicuci ( dibersihkan dari formalin), diawetkan dalam alcohol 70% untuk selamanya. Jika ikan akan tetap disimpan dalam formalin, maka formalin harus diganti secara periodic ddalam waktu-waktu tertentu.

5)       Tiap specimen ikan yang diawetkan harus disimpan dalam wadah yang dibubuhi label pada wadahnya.

 

Untuk menghilangkan bau formalin pada ikan yang akan diperiksa ikan tersebut terlabih dahulau direndam selama beberapa menit dalam NaOHSO3 dan Na2SO3 dalam perbandingan 60 gr NaHSO3 dan 90 gr Na2SO3 untuk tiap satu liter air ( Saanin, 1968).

 

CARA MEMPERTAHANKAN WARNA IKAN

Warna asli ikan sering berubah karna formalin. Untuk menghindari hal tersebut dapat digunakan cara pengawetan sebagai berikut. Mula-mula ikan direndam dalam spiritus selama sehari, kemudian dimasukan kedalam larutan yang terdiri dari 100 gr garam dapur murni, 5 gr garam glauber murni, 50 gr gliserin dan satu liter air suling murni ( Akuades) kedalam larutan tersebut ditambahkan pula 10-15 tetes kamfer spiritus  dan kemmudian wadahnya ditutup rapat sehingga udara tidak dapat masuk. Dengan cara ini, warna dan kilap sisik tidak akan berububah.

 

Pembuatan larutan formalin 4-5%

Pertama dilakukan pengenceran terhadap formalin yang diperdagangkan yang berkadar 100% ( formaldehida 40%) tersebut. Pada prakteknya pengenceran dapat dihitung dengan rumus:

V1 x N1 = V2 x N2

 

V1  = Volume formalin yang tersedia (cc)

N1  = konsenterasi formalin yang tersedia (%)

V2 = volume formalin setelah pengenceran (cc)

N2 = konsentrasi formalin yang dikehendaki (%)

Kekurangan kelebihan zat pengawet

  • Formalin mempunyai uap yang berbau tajam menusuk hidung dan merangsang keluarnay air mata serta dapat merusak kulit.
  • Formalin bersifat mengeraskan dan membuat ikan yang akan diawetkan berkerut dan berubah warna. Untuk mencegah hal ini, ada baiknya formalin dicampur borax ( 5 gram)
  • Alkohol bersifat mudah menguap dan mudah terbakar bila terkena api.
  • Alkohol tidak mengakibatkan ikan yang diawetkan menjadi kaku dan warna ikan cepat berubah .
  • Kotak pendingin (cool box) mampu mengawetkan ikan sampai 24 jam dengan pengecekan es dalam box pada periode waktu tertentu, namun terkadang tidak semua tempat menyediakan es (Es sulit didapat)

Tentang fauzi MSP

pelajar IPB jurusan MSP-Fpik moto: sampaikanlah ilmu walau satu ayat...
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Cara Pengawetan ikan koleksi

  1. hendra berkata:

    mohon bantuannya mas,

    gimana cara mengawetkan lobster, kepiting dan ikan untuk pajangan didinding? Tlng balas lewat email sy.

    Terimakasih atas bantuannya pajangan didinding? Tlng balas lewat email sy.

    Terimakasih atas bantuannya

    • fauzi MSP berkata:

      untuk mengawetkan lobster, kepiting, dan ikan yang mw dipajang didinding anda bisa melakukan penyuntikan larutan formaldehida (formalin nama komersilnya) pada lobster atau samapel anda, dengan konsentrasi 10% ya, kelebihanya ikan sampel anda akan awet (tidak busuk), tapi cukup rapuh ketika sampel udang ataupun lobster telah benar2 kering, saya sendiri menggunakan formalin untuk mengawetkan sampel udang galah (macrobrachium rosenbergii) dari palembang untuk dikirim ke bogor, alhamdulilah hasil nya cukup meuaskan, warna tidak pudar, namun ketika udang bernar2 kering sangat mudah patah dibagian kaki renang, jika untuk keperluan hiasan anda dapat membingkai dengan kaca…
      untuk membeli formalin di apotek biasanya harus ada prosedur suraat kusus…
      ok selamat mencoba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s